Rabu, 01 Juli 2009

Jelajah Surabaya, Kota Pahlawan yang panas...

Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa, Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah.

Kata Surabaya konon berasal dari cerita mitos pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya (buaya). Surabaya dulunya merupakan gerbang Kerajaan Majapahit, yakni di muara Kali Mas. Bahkan hari jadi Kota Surabaya ditetapkan sebagai tanggal 31 Mei 1293. Hari itu sebenarnya merupakan hari kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya terhadap pasukan kerajaan Mongol utusan Kubilai Khan. Pasukan Mongol yang datang dari laut digambarkan sebagai BOYO (buaya/bahaya)dan pasukan Raden Wijaya yang datang dari darat digambarkan sebagai ikan SURO (ikan hiu/berani), jadi secara harfiah diartikan berani menghadapi bahaya yang datang mengancam. Maka hari kemenangan itu diperingati sebagai hari jadi Surabaya.

Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar dengan pesat di daerah Surabaya. Salah satu anggota wali sanga, Sunan Ampel, mendirikan masjid dan pesantren di daerah Ampel. Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian dari Kesultanan Demak.






Menyusul runtuhnya Demak, Surabaya menjadi sasaran penaklukan Kesultanan Mataram: diserbu Panembahan Senopati tahun 1598, diserang besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, diserang Sultan Agung tahun 1614. Pemblokan aliran Sungai Brantas oleh Sultan Agung akhirnya memaksa Surabaya menyerah. Tahun 1675, Trunojoyo dari Madura merebut Surabaya, namun akhirnya didepak VOC pada tahun 1677. Dalam perjanjian antara Paku Buwono II dan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan penguasaannya kepada VOC.

Pada zaman Hindia-Belanda, Surabaya berstatus sebagai ibukota Karesidenan Surabaya, yang wilayahnya juga mencakup daerah yang kini wilayah Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Pada tahun 1905, Surabaya mendapat status kotamadya (Gemeente). Pada tahun 1926, Surabaya ditetapkan sebagai ibukota provinsi Jawa Timur. Sejak itu Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia-Belanda setelah Batavia.







Sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja. Sampai tahun 1920-an, tumbuh pemukiman baru seperti daerah Darmo, Gubeng, Sawahan, dan Ketabang. Pada tahun 1917 dibangun fasilitas pelabuhan modern di Surabaya. Tanggal 3 Februari 1942, Jepang menjatuhkan bom di Surabaya. Pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil merebut Surabaya. Surabaya kemudian menjadi sasaran serangan udara Sekutu pada tanggal 17 Mei 1944.

Setelah Perang Dunia II usai, pada 25 Oktober 1945, 6000 pasukan Inggris-India yaitu Brigade 49, Divisi 23 yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby mendarat di Surabaya dengan perintah utama melucuti tentara Jepang, tentara dan milisi Indonesia. Mereka juga bertugas mengurus bekas tawanan perang dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan Jepang menyerahkan semua senjata mereka, tetapi milisi dan lebih dari 20000 pasukan Indonesia menolak.

26 Oktober 1945, tercapai persetujuan antara Bapak Suryo, Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka. Sayangnya terjadi salah pengertian antara pasukan Inggris di Surabaya dengan markas tentara Inggris di Jakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Sir Philip Christison.

27 Oktober 1945, jam 11.00 siang, pesawat Dakota AU Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia marah waktu membaca selebaran ini dan menganggap Brigjen Mallaby tidak menepati perjanjian tanggal 26 Oktober 1945.

28 Oktober 1945, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di Surabaya, Brigjen Mallaby meminta agar Presiden RI Soekarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya dan mengusahakan perdamaian.

29 Oktober 1945, Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap bersama Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding.

Pada siang hari, 30 Oktober 1945, dicapai persetujuan yang ditanda-tangani oleh Presiden RI Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan ke 3 pimpinan RI meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.

Pada sore hari, 30 Oktober 1945, Brigjen Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk memberitahukan soal persetujuan tersebut. Saat mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio, dekat Jembatan merah, mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio.

Karena mengira komandannya akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris kompi D yang dipimpin Mayor Venu K. Gopal melepaskan tembakan ke atas untuk membubarkan para milisi. Para milisi mengira mereka diserang / ditembaki tentara Inggris dari dalam gedung Internatio dan balas menembak. Seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith melemparkan granat ke arah milisi Indonesia, tetapi meleset dan malah jatuh tepat di mobil Brigjen Mallaby.

Granat meledak dan mobil terbakar. Akibatnya Brigjen Mallaby dan sopirnya tewas. Laporan awal yang diberikan pasukan Inggris di Surabaya ke markas besar pasukan Inggris di Jakarta menyebutkan Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia.

Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby dan mengerahkan 24000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya. 9 November 1945, Inggris menyebarkan ultimatum agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera diserahkan ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini tidak diindahkan.

10 November 1945, Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang Brigadir Jendral Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya. 20 November 1945, Inggris berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur.

Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan Bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.




Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran tanggal 10 November 1945 tersebut hingga sekarang dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kamis, 18 Juni 2009

Ekspedisi Yogyakarta, dari Kontes Robot hingga Borobudur

Jumat, 12 Juni 2009, masih dalam masa training dan tengah mempersiapkan modul praktikum PHP, kita para dosen Politeknik Aceh yang lagi menjalani training di Politeknik Manufakturing Negeri Bandung mendapat kabar gembira dimana tersedianya tempat untuk ikut rombongan tim KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia), KRI (Kontes Robot Indonesia), dan KRSI (Kontes Robot Seni Indonesia) Politeknik Manufakturing Bandung. Komposisi rombongan yang awalnya tersedia hanya untuk satu orang, akhirnya berkembang menjadi 5 orang. Akhirnya alis, Meiriansyah Putra, Fakruddin, Suka Isnaini dan Rizki Okta Al Hadi masuk dalam daftar rombongan dan Yogya menjadi tujuan kita.. Yogya….!!!!!!!!!

Jam 7 malam, dengan Bus Pariwisata, rombongan telah siap berangkat ditemani dinginnya malam dan macetnya kota Bandung yang mulai Jumat malam telah ramai oleh pendatang dari luar kota yang ingin berlibur ke Bandung. Tapi kita akan keluar Bandung. Perjalann berjalan lancar, hanya pada tanjakan Nagrek seperti biasa padat merayap dan kita melewati kota-kota Tasikmalaya, Ciamis yang terkenal karena kebersihan kotanya (asli, bersih banget ini kota, apalagi kita ngelewatinnya malam, dimana para penduduk tengah tidur, kita akan melihat Kota tanpa sampah). Jam demi jam berlalu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat terlewati kita disambut dengan kota majenang, kebumen dan akhirnya Wates, kita shalat subuh disini dan jam 6 pagi udah sampai di Yogyakarta. Setelah istirahat, sarapan, mandi dan berkemas di BLPT (Balai Pelatihan Pendidikan Tehnik), jam 8 kita berangkat ke Graha Shaba Paratama Universitas Gajah Mada (GSP UGM).









Kontes Robot yang dimeriahkan oleh kontestan dari seluruh Indonesia berkumpul, mulai dari Politeknik Negeri Medan hingga Universitas Negeri Minahasa berkumpul disini mempertunjukkan keahlian mereka dalam merancang Robotika yang terbagi dalam 3 kategori kontes. Kontes Robot Indonesia (KRI) yang dimeriahkan oleh berbagai rancangan robot dari berbagai Universitas dan Politeknik memperlombakan Robot-robot yang bekerja sesuai tema yang diajukan yakni Robot terdiri dari 3 robot (Otomatis dan Manual remote), dimana 2 robot menjadi pengangkut robot otomatis dan mereka berjalan pada jalur dan rintangan yang disediakan hingga sampai pada titik finish dan robot otomatis diberi tugas untuk memukul 3 bedug yang tersusun dari atas kebawah. Kontes yang memakai sistem gugur ini mempertandingkan 2 Grup yang dinilai berdasarkan waktu, ketepatan aturan, desain dan mekanikalnya.

Kontes berikutnya yaitu KRSI dan KRCI, kalo KRSI mempertandingkan Robot yang dapat menari Jaipongan dengan mengikuti lagu yang dimainkan serta memadukan goyangan dan lekukan pada tiap nada lagu daerah yang dimainkan, tepuk tangan dari penonton mengiringi tiap kontestan yang sudah merancang robot dari waktu yang lama. KRCI lebih Ok, Robot dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mendeteksi dinding (seperti Maze pada Puzzle) untuk menemukan jalan terbaik dan mencari ruangan yang terdapat lilin untuk kemudian sensor panas robot dapat mematikan api dari lilin tersebut. Konsep mikroelektronika, komunikasi data, dan berbagai disiplin ilmu science berpadu disini.







Penontonnya pun gak kalah seru, mulai dari Arek Suroboyo yang mendukung tim dari PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya), ITS (Institut Teknologi Sepuluh November), dan UNS (Universitas Negeri Surabaya), ada juga dari Bandung yang mendukung tim dari Polban (Politeknik Negeri Bandung), Polman (Politeknik Manufakturing Negeri Bandung), ITB (Institut Teknologi Bandung) dan UNIKOM (Universitas Komputer Indonesia). Trus disisi tribun lain ada dari Jogja yang mendukung tim UGM (Universitas Gajah Mada), UMJ (Universitas Muhammadiyah Jogjakarta) dan AMIKOM. Juga dari Jakarta yang menjadi supporter UI (Universitas Indonesia), PNJ (Politeknik Negeri Jakarta) dan supporter dari daerah lainnya seperti Padang, Batam, Semarang, Sulawesi, Bangka dan Kalimantan.

Tapi kita gak full nontonnya, setelah makan siang disekitaran UGM, kita jalan-jalan disekitaran kampus, mesjid UGM, dan sorenya kita janjian dengan teman-teman sesama dosen Politeknik Aceh di Yogya yang lagi training juga untuk berkumpul di Malioboro, pusat jajanan seni di Yogyakarta, makan malam di warung lesehan dan perjalanan berlanjut ke Benteng Vredenburg, Istana Negara Yogyakarta dan berakhir di Monumen 11 maret. Rencana untuk esok diatur, meski pada esok harinya semua berubah, jam 11 malam kita tiba dipenginapan untuk istirahat







Hari kedua, kontes memasuki tahap selanjutnya. Namun karena tim dari Polman kalah, anak2 rombongan merencanakan destinasi berikutnya, yaitu Borobudur..Akhirnya, bus berangkat ke Magelang, setelah beli oleh-oleh di Yogyakarta..

Hari ini kita habiskan di Borobudur, candi yang dibangun pada masa kerajaan hindu dan Budha masih berjaya ditanah Jawa ini menyisakan berbagai legenda. Makanya banyak para pengunjung disini menganggap Candi ini sangat kramat dan kadang ada yang mengambil batu-batu arca disini sebagai jimat yang menjadikan Candi ini tidak utuh lagi. Setelah foto-foto dan menunggu rombongan yang lain, kita pulang ke Bandung jam 4 sore dan tiba di Bandung jam 2 pagi hari senin, dimulai kegiatan kuliah dan kerja lagi