Sabtu, 30 Januari 2010

Sejarah Meulaboh, “…di siko lah kito belaboh… “

Meulaboh, Kota yang pernah terkenal karena bencana tsunami 2004 yang meluluh lantakkan sebagian besar kehidupan sosial dan infrastruktur kotanya. Kini Meulaboh hadir sebagai kota yang tengah membangun, membangun kembali jati dirinya sebagai sebuah kota yang mempunyai sejarah panjang sebagai salah satu identitas keberagaman yang ada di Aceh. Meulaboh juga kembali hadir sebagai sebuah kota yang ingin merubah pandangan dari kota penuh mistik menjadi kota penuh karakteristik.. dan pastinya Meulaboh juga hadir dalam deretan tulisan saya mengenai Aceh, hhe…

Setelah mendapat respon yang positif dari tulisan Banda Aceh (Menyusuri Sejarah kota Banda Aceh), Lhokseumawe (Lhokseumawe, Sejarah dan Kenangan yang Terlupakan), Lamno (Pesona Lamno, Pesona Wanita Bermata Biru) dan Sabang (Sabang, dari Nol Kilometer, hingga Jutaan Keindahan). Kini penelusuran sejarah akan menjejakkan kaki dan penanya ke sebuah kota tempat lahirnya Sang Pahlawan, Teuku Umar.

Setelah membuka 3 buah buku tentang sejarah Aceh yaitu Aceh Sepanjang Abad, Atjeh dan Nusantara serta buku kopian dari perpustakaan Ali Hasyimi (judulnya sudah tidak jelas lagi), tulisan pun dimulai. Dimulai dengan sebuah judul yang unik dibandingkan dengan tulisan terdahulu. Unik karena mengandung unsur kata dari daerah Minangkabau. Unik karena ini cerita tentang Meulaboh, bukan daerah di Semenanjung Mentawai, tapi di Semenanjung Barat Aceh.

Nama Meulaboh tak akan dipisahkan dari 2 perang besar di Jaman Belanda yang terjadi pada 2 daerah berbasis Islam terbesar di Pulau Andalas (Sumatera) yaitu Aceh dan Minangkabau. Jika di daratan Minang dikenal adanya perang padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Perang ini melibatkan 2 pihak bersaudara sesama muslim antara kaum paderi yang membawa ajaran pembaruan Islam beraliran Wahabi dari Arab. Tiga orang ulama pulang dari mengikuti pendidikan di Arab. Mereka adalah Haji Piobang, Haji Miskin dan Haji Sumanik. Ajaran pembaruan Islam yang dibawa tiga orang haji ini, membuat gundah masyarakat Minangkabau yang waktu itu sudah menganut ajaran Islam, yang disebut beraliran Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Inti cerita perang ini adalah tentang makin kuatnya garakan Paderi melakukan penyerangan terhadap kaum adat yang menguasai Kerajaan Minangkabau di istana Pagaruyung. Dampaknya berpengaruh kepada para penghulu pemangku adat, yakni para datuk yang menjadi kepala suku di luhak nan tigo. Luhak Agam, Luhak Tanah Datar dan Luhak Limapuluh Koto. (Luhak-luhak tersebut sekarang disebut kabupaten).

Salah seorang datuk yang merupakan kaum bangsawan dari keluarga Kerajaan Minangkabau itu, adalah Datuk Rajo Agam, penghulu suku Sikumbang di Luhak Agam. Bersama Datuk Rajo Alam dari Luhak Tanah Datar dan Datuk Makhudum Sati dari Luhak Limopuluh Koto, mereka bersepakat menghindari pertumpahan darah, mengungsi ke arah Utara. Dengan menaiki beberapa perahu di pelabuhan Tanjung Mutiara rombongan berlayar ke arah Utara (ke arah Aceh). Dan berlabuh di suatu negeri pantai yang waktu itu bernama Pasir Karam.

Kedatangan bangsa Minangkabau ke daratan Aceh, yang dulunya bernama Pasir Karam ini diperkirakan awal mula munculnya kata Meulaboh, dimana para pendatang itu kemudian mengucapkan kata: “… di sikolah kito belaboh…” dan pengucapan kata itu hari demi hari ini menjadi sebuah kebiasaan masyarakat yang pada masa dulu menjadikan sebuah cirikhas daerah menjadi nama daerah tersebut.

Dari buku Atjeh dan Nusantara, diungkapkan oleh HM Zainuddin, bahwa negeri ini dibangun pada masa Sultan Saidil Mukamil (1588-1604). Pada masa Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) negeri itu ditambah pembangunannya.
Di negeri itu dibuka perkebunan merica, tapi negeri ini tidak begitu ramai karena belum dapat menandingi Negeri Singkil yang banyak disinggahi kapal dagang untuk mengambil muatan kemenyan dan kapur barus. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Djamalul Alam, Negeri Pasir Karam kembali ditambah pembangunannya dengan pembukaan kebun lada. Untuk mengolah kebun-kebun itu didatangkan orang-orang dari Pidie dan Aceh Besar disusul kemudian dengan kedatangan orang-orang Minangkabau yang lari dari negerinya akibat pecahnya perang Padri (1805-1836) seperti cerita di atas.

Pendatang dari Minangkabau itu kemudian hidup berbaur dengan masyarakat setempat. Diantara mereka malah ada yang menjadi pemimpin diantaranya: Datuk Machadum Sakti dari Rawa, Datuk Raja Agam dari Luhak Agam. Datuk Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu. Mereka menebas hutan mendirikan pemukiman yang menjadi tiga daerah, Datuk Machdum Sakti membuka negeri di Merbau, Datuk Raja Agam di Ranto Panyang dan Datuk Raja Alam Song Song Buluh di Ujong Kala yang menikah dengan anak salah seorang yang berpengaruh di sana.

Sama dengan masyarakat setempat, ketiga Datuk tersebut juga memerintahkan warganya untuk membuka ladang, sehingga kehidupan mereka jadi makmur. Ketiga Datuk itu pun kemudian sepakat untuk menghadap raja Aceh, Sultan Mahmud Syah yang dikenal dengan sebutan Sultan Buyung (1830-1839) untuk memperkenalkan diri.

Ketika menghadap Sultan masing-masing Datuk membawakan satu botol mas urai sebagai buah tangan. Mereka meminta kepada raja Aceh agar memberikan batas-batas negeri mereka. Permintaan itu dikabulkan, Raja Alam Song Song Buluh kemudian diangkat menjadi Uleebalang Meulaboh dengan ketentuan wajib mengantar upeti tiap tahun kepada bendahara kerajaan.

Para Datuk itu pun setiap tahun mengantar upeti untuk Sultan Aceh, tapi lama kelamaan mereka merasa keberatan untuk menyetor langsung ke kerajaan, karena itu mereka meminta kepada Sultan Aceh yang baru Sultan Ali Iskandar Syah (1829-1841) untuk menempatkan satu wakil sultan di Meulaboh sebagai penerima upeti. Permintaan ketiga Datuk itu dikabulkan oleh Sulthan, dikirimlah ke sama Teuku Chik Purba Lela. Wazir Sultan Aceh untuk pemerintahan dan menerima upeti-upeti dari Uleebalang Meulaboh.

Para Datuk itu merasa sangat senang dengan kedatangan utusan Sultan yang ditempatkan sebagai wakilnya di Meulaboh itu. Mereka pun kemudian kembali meminta pada Sultan Aceh untuk mengirim satu wakil sultan yang khusus mengurus masalah perkara adat dan pelanggaran dalam negeri. Permintaan itu juga dikabulkan, Sultan Aceh mengirim kesana Penghulu Sidik Lila Digahara yang menyidik segala hal yang berkaitan dengan pelanggaran undang-undang negeri.

Permintaan itu terus berlanjut. Kepada Sultan Aceh para Datuk itu meminta agar dikirimkan seorang ulama untuk mengatur persoalan nikah, pasahah dan hokum Syariat. Maka dikirimlah ke sana oleh Sultan Aceh Teungku Cut Din, seorang ulama yang bergelar Almuktasimu-binlah untuk menjadi kadhi Sultan Aceh di Meulaboh.

Meulaboh bertambah maju ketika Kerajaan Aceh dipimpin Sultan Ibrahim Mansjur Sjah (1841-1870) karena semakin banyaknya orang-orang dari Minangkabau yang pindah ke sana, karena Minangkabau saat itu sudah dikuasai Belanda. Di sana mereka tidak lagi bebas berkebun setelah Belanda menerapkan peraturan oktrooi dan cultuurstelsel yang mewajibkan warga menjual hasil kebunnya kepada Belanda.

Di Meulaboh para pendatang dari Minangkabau itu membuka perkebunan lada yang kemudian membuat daerah itu disinggahi kapal-kapak Inggris untuk membeli rempah-rempah. Karena semakin maju maka dibentuklah federasi Uleebalang yang megatur tata pemerintahan negeri. Federasi itu kemudian dinamai Kaway XVI yang diketuai oleh Uleebalang Keudruen Chik Ujong Kala.

Disebut Kaway XVI karena federasi itu dibentuk oleh enam belas Uleebalang, yaitu Uleebalang Tanjong, Ujong Kala, Seunagan, Teuripa, Woyla, Peureumbeu, Gunoeng Meuh, Kuala Meureuboe, Ranto Panyang, Reudeub, Lango Tangkadeuen, Keuntjo, Gume/Mugo, Tadu, serta Seuneu’am.

Salah seorang dari 3 datuk yang berkuasa di Meulaboh, adalah Machdum Sakti, yang merupakan Kakek dari Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Datuk Makdum Sakti mempunyai dua orang putra, yaitu Teuku Nanta Setia dan Teuku Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud yang menikah dengan adik raja Meulaboh Cut Mahani merupakan bapak Teuku Umar. Dan Teuku Nanta Setia (penerus Uleebalang) adalah Ayahanda dari Cut Nyak Dhien, jadi Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar itu adalah Sepupu. Pernikahan antar sepupu di Aceh pada masih sangat lazim, mengingat masih kuatnya paham Pernikahan Sekufu (makanya penulis gak nikah-nikah, hha)

Jadi Meulaboh menjadi Saksi bisu, 2 perang yang berkecamuk di masa dahulu, yaitu perang Paderi di Minangkabau antara Kaum kerajaan dan kaum paderi serta perang Aceh yang salah satu daerahnya dipimpin oleh Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien melawan tentara Belanda di Pantai Barat Aceh.

Kini di Meulaboh, dibangun jalan dari Banda Aceh sepanjang jarak Banda Aceh Meulaboh, diharapkan panjangnya jalan itu, menjadikan panjang pula cita-cita masyarakat Kawasan Barat Aceh untuk kembali bangkit dan mulai membangun untuk kemakmuran Aceh dan demi Kemakmuran Muslim Seluruh Dunia..

“Meulaboh, di sikolah kito belaboh…”

Selasa, 29 Desember 2009

Lhokseumawe, Sejarah dan Kenangan yang Terlupakan

Kota adalah sebuah karya manusia yang dimanfaatkan oleh manusia dalam hidupnya untuk menjalankan segala macam aktifitas dengan segala macam sarana dan prasarana. Kota menjadi sebuah wadah bagi pluralitas kemanusian yang kompleks dan terkadang juga penuh kontradiksi. Kota harus mempunyai tata ruang yang strategis, agar fungsi kota dapat dinikmati bagi seluruh penghuninya baik secara geografisnya, maupun secara fungsionalitas fasilitas yang terdapat dalam kota tersebut.

Banyak parameter dan variabel yang mempengaruhi perubahan keadaan dan kebutuhan sebuah kota. Salah satunya adalah perubahan kehidupan sosial dari masyarakat yang hidup didalamnya. Saat masyarakat merasa bahwa perubahan kehidupan dan kebutuhan itu menjadi sebuah keharusan, maka sebuah Kota pun mau tidak mau akan mengikuti arus perubahan yang terjadi di kehidupan sosial masyarakatnya.

Huff bahasanya…..





Lhokseumawe, selintas gak ada yang spesial dari kota kecil yang dikelilingi air ini, dengan luas sekitar beberapa km persegi dan hanya punya 5 kecamatan, praktis kehidupannya pun biasa aja..tapi dalam hidup saya, 17 tahun mengabdi pada kota tempat sebuah cita-cita diacungkan, tempat sebuah pelabuhan cinta didermagakan, tempat sebuah tongkat harapan ditegakkan, dan tempat sebuah penghuni sasana hati kini kutinggalkan.. Sangat tidak mungkin, semua kenangan di kota Lhokseumawe terlupakan, setiap langkah di sisi kota mempunyai memori, setiap jengkal tanah yang dipandang punya arti yang dalam.. oke, cukup nostalgia kita, untuk urusan Lhokseumawe, Penulis tak harus menjadi Sang Pemimpi

Banda Aceh udah diceritain tiap sudut sejarahnya, Sabang juga udah dijelajahi tiap titik objek wisatanya, Lamno dengan pesona serba birunya (hhe..) juga udah disimpan dalam hardisk 120 G kepunyaan Dell Biru ini.. Sekarang saatnya menjelajahi Lhokseumawe, kota Petrodolar yang kini tengah beranjak dewasa menjadi kota perdagangan.





Lhokseumawe, Kota yang kalo diliat di peta, berbentuk seperti palung laut, seperti teluk dan cocok banget bagi pelabuhan. Sepanjang kota Lhokseumawe dikeliling air, mulai dari Banda Sakti, sampai Ujong Blang, Pusong dan Cunda, hanya jembatan cunda aja yang menghubungkan kota Lhokseumawe dengan daratan Sumatera, makanya nama Lhokseumawe pun diambil dari keadaan geografis ini, Lhok yang artinya teluk, dan Seumawe menggambarkan banyaknya mata air di sepanjang garis pantai yang mengelilingi kota. Kampung yang paling tua di kota ini adalah Uteun Bayi, dan yang terluas adalah Teumpok Teungoh (waktu alis masih di lhokseumawe, hhe). Nama Lhokseumawe sendiri sempat berubah-ubah, pas jaman masih masuk dalam Mukim Kutablang abad 20, kota Lhokseumawe mulai menjadi jajahan belanda, banyak sisa sisa peninggalan belanda seperti SMU 1, SLTP 1, Kodam dan Kodim, Kantor Imigrasi dan BI, Bank Mandiri Merdeka, Pelabuhan Pardede, dan lain-lain masih banyak dapat dijumpai, kecuali SMU 1 yang sudah dirombak habis-habisan oleh pengembang….SMU 1 Lhokseumawe, tinggal kenangan…haha….

Tahun 1903, nama Lhokseumawe diubah menjadi Bestuur van Lhokseumawe, dengan kepala daerahnya Teuku Abdul Lhokseumawe tunduk dibawah Aspiran Controeleur dan di Lhokseumawe berkedudukan juga Controleur atau Wedana serta Asisten Residen atau Bupati. Pada dasawarsa kedua abad ke 20 itu, diantara seluruh daratan aceh, salah satu pulau kecil dengan luas sekitar 11 km2 (ibukota Lhokseumawe sekarang) yang dipisahkan sungai Krueng Cunda diisi bangunan-bangunan Pemerintah Umum, Militer dan Penghubungan Kereta Api oleh Pemerintah Belanda. Pulau Kecil dengan desa-desa kampung Keude Aceh, Kampung Jawa, Kampung Kutablang, Kampung Mon Geudong, Kampung Teumpok Teungoh, Kampung Hagu, Kampung Uteun Bayi dan Kampung Ujong Blang dan keseluruhan baru berpenduduk 5.500 jiwa, secara jamak disebut Lhokseumawe. Bangunan demi bangunan mengisi daratan ini sampai terwujud embrio kota yang memiliki pelabuhan, pasar, stasiun kereta api dan kantor-kantor lembaga Pemerintahan. Masa penduduk Jepang, Zelf Bestuurder Lhokseumawe tidak lagi dipegang Maharaja, tetapi mulai tahun 1942 s/d 1946 dipegang putranya Teuku Baharuddin.

Sejak Proklamasi kemerdekaan, Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk sistematik sampai kecamatan ini. Pada mulanya Lhokseumawe digabung dengan Bestuurder van Cunda. Penduduk didaratan ini semakin ramai berdatangan dari daerah sekitarnya seperti Buloh Blang Ara, Matangkuli, Lhoksukon, Blang Jruen, Nisam dan Cunda serta Pidie dan menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Utara.





Pada Tanggal 14 Agustus 1986 Pembentukan Kota Administratif (Kotif) Lhokseumawe dilakukan, sebagai awal pembentukan kotamadya Lhokseumawe yang digagas oleh Bupati Aceh Utara Karimuddin Hasybullah. Kemudian, pada tahun 2000 Bupati Aceh Utara, Tarmizi A. Karim, merekomendasi menjadi Kota Lhokseumawe tanggal 21 Juni 2001, yang ditandatangani Presiden RI H. Abdurrahman Wahid. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 2001 diresmikan Pemko Lhokseumawe hingga sekarang..sejarah yang sangat panjang.
Lhokseumawe besar dan berkembang seiring berkembangnya industri di Aceh Utara, seperti Industri PT. Kertas Kraft Aceh(PT.KKA), PT. Pupuk Iskandar Muda, PT. Asean Aceh Fertilizer dan EXXON Mobil – Arun. Dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dari pabrik-pabrik besar yang dimiliki kota Lhokseumawe, namun tak juga mampu mengangkat derajat kehidupan sebagian besar penduduk asli Lhokseumawe dari bawah garis kemiskinan.



Berdasarkan hasil penelitian Geologi Departemen Pertambangan dalam wilayah Kota Lhokseumawe terdapat bahan galian Golongan C berupa batu kapur, tanah timbun dan pasir/kerikil. Di samping itu terdapat juga sumber daya alam berupa gas alam yang pengolahannya dilakukan oleh PT. Arun NGL Co. Sumber daya alam tersebut sudah dieksplorasi sejak tahun 1975 oleh Mobil Oil Indonesia Inc (sekarang Exxon Mobil) di Kabupaten Aceh Utara yang selanjutnya dilakukan pengolahan untuk diekspor ke luar negeri, hasil pengolahan gas dimanfaatkan oleh Pabrik Aromatix yang dibangun tahun 1998 dan perusahan–perusahaan besar lainnya seperti pabrik pupuk.

Lhokseumawe satu-satunya kota yang punya 2 bandara di Aceh, bandara ExxonMobil dan Bandara Sultan Malikulsaleh, dan satu-satunya kota yang punya 2 perguruan tinggi di Aceh, Universitas Malikulsaleh dan Politeknik Negeri Lhokseumawe. Lhokseumawe kini tumbuh dan berkembang seiring banyaknya ruko-ruko yang dibangun sebagai imbas dari semakin sedikitnya sumber gas dan minyak bumi yang terkandung di Arun. Para penduduknya yang sebagian besar pendatang mulai banyak yang pulang kampung, seperti saya, hh… dan penduduk aslinya banyak yang mulai membuka usaha perdagangan jasa dan produk. Praktis kehidupan mewah ala kota petrodolar sudah mulai tidak tampak di Lhokseumawe. Lhokseumawe punya komplek perumahan yang banyak, setiap pabrik yang mengadakan produksinya di Lhokseumawe punya komplek perumahan untuk karyawannya, mulai dari Bukit Indah untuk Exxon Mobil, Komplek Arun, Komplek PIM, AAF, dan KKA. Tapi, karena sumber daya alam yang makin menipis, komplek-komplek perumahan itu pun ditinggalkan oleh penghuninya, seperti AAF, Bukit Indah, dan KKA. Awal mula metamorfsis sebuah kota yang dulu sangat mengagungkan minyak dan gas bumi ini, kini geliat masyarakat mulai beralih kepada industri perdagangan produk dan jasa, selain mata pencaharian Pegawai Negeri Sipil yang sangat populer tentunya..



Tempat wisata di Lhokseumawe gak sebanyak di kota Aceh lainya, Walikota Lhokseumawe Munir Usman mulai membangun pusat wisata kuliner, seperti pantai Semadu di Kecamatan Muara Satu atau pantai Ujong Blang di Kota Lhokseumawe. Lagi-lagi jangan bayangkan Ujong Blang dengan pantai wisata lain. Selain hanya berupa deretan pantai bekas dihajar tsunami, sarana prasarana wisata di tempat in terbatas untuk duduk menikmati jajanan. Sisanya hanya kecipak air, tapi ya lumayanlah, sekarang udah banyak tempat-tempat duduk menikmati sore di Pantai yang punya julukan “wc terpanjang di dunia ini”.







Topografi Lhokseumawe memang berbentuk daratan yang menjorok ke laut, sisi timur dan baratnya dikelilingi teluk dan arus sungai yang bermuara melalui jembatan Cunda. Jika ingin mengunjungi pantai berpasir putih, Anda bisa melancong ke Ulee Rubek di Desa Ulee Rubek Kec. Seunuddon, 50 km dari kota Lhokseumawe. Atau jika bosan dengan pantai, bisa juga berkunjung ke pemandian Krueng Sawang. Tempat ini adalah sungai yang airnya sangat jernih penuh dengan bebatuan, tempat ini merupakan pemandian yang ramai dikunjungi wisatawan. Udaranya yang sejuk, lingkungan yang masih alami, sangat layak dijadikan sebagai lokasi perkemahan. Daerah ini juga dikenal sebagai lokasi perkemahan. Daerah ini juga dikenal sebagai penghasil durian. Ada juga air terjun Blang Kolam di Desa Sidomulyo. Sayang butuh waktu khusus untuk menuju lokasi ini yang kabarnya dipenuhi burung-burung liar

Situs Pasee

Dari seluruh lokasi wiasata, rasanya kurang jika belum berkunjung ke situs kerajaan Samudera Pase. Kerajaan Islam di Aceh Utara itu adalah batu penjuru masuknya Islam ke Nusantara. Pengaruh kerajaan ini bahkan mencapai Asia Tenggara. Jika menuju tempat ini Anda bisa melanjutkan ke lokasi Pantai Sawang yang terletak di Desa Sawang Kecamatan Samudera. Disini terdapat makam Malikussaleh, Ratu Nahrisyah dan situs-situs makam petinggi kerajaan serta ulama ternama pada abad ke-13. Kejayaan yang dulu menjulang seakan pupus ditelan waktu.

Makam Malikulssaleh dan putranya Sultan Malikul Dhahir terletak di Gampong Beuringen Kec. Samudera ± 17 km dari Kota. Tidak jauh dari tempat itu, terdapat makan Ratu Nahrisyah. Pemimpin Kerajaan Samudera Pasai tahun 1416-1428 M. Makamnya terletak di Gampong Kuta Krueng Kecamatan Samudera. Hanya beberapa langkah ada makam Teungku Peuet Ploh Peuet (44) dikuburkan 44 orang ulama dari Kerajaan Samudera Pasai yang dibunuh karena menentang dan mengharamkan perkawinan raja dengan putri kandungnya. Dan jangan tanya perawatan makam-makam ini. Lhokseumawe adalah kota yang sangat tidak menghargai peninggalan sejarahnya….





Berdasarkan berita Marcopolo pada 1292 dan Ibnu Batutah. Pada 1267 telah berdiri kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu kerajaan Samudra Pasai. Ini dibuktikan dengan batu nisan makam Sultan Malik Al Saleh raja pertama Samudra Pasai bertahun 1297. Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera, Pasai, atau Samudera Darussalam, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang.

Kerajaan Samudra Pasai berdiri sekitar abad 13 oleh Nazimuddin Al Kamil, seorang laksamana laut Mesir. Pada 1283 Pasai dapat ditaklukannnya, kemudian mengangkat Marah Silu menjadi Raja Pasai pertama bergelar Sultan Malik Al Saleh (1285 – 1297). Makam Nahrasyiah Tri Ibnu Battutah, musafir Islam terkenal asal Maroko, mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera sekitar tahun 1345 Masehi. Setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (Myanmar), Battutah mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas.

Pada masa Sultan Malikul Dhahir, Samudera Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang Asia, Afrika, Cina, dan Eropa. Selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan tersibuk. Bersamaan dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Pasai juga menjadi pusat perkembangan Islam di Nusantara. Kebanyakan mubalig Islam yang datang ke Jawa dan daerah lain berasal dari Pasai bahkan terjadi hubungan pernikahan. Sebut saja Sunan Kalijaga memperistri anak Maulana Ishak, Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati alias Fatahillah yang gigih melawan penjajahan Portugis lahir dan besar di Pasai. Laksamana Cheng Ho tercatat juga pernah berkunjung ke Pasai. Sementara Fatahilah, ulama terkemuka Pasai menikah dengan adik Sultan Trenggono(raja Demak/adik Patih Unus/anak Raden Patah). Fatahilah berhasil merebut Sunda Kelapa (22 Juni 1522) berganti nama menjadi Jayakarta, juga Cirebon dan Banten.

Masyarakat Aceh Utara memiliki warisan budaya yang sangat menarik, yang pada umumnya berakar dari nilai - nilai ajaran Islam. Ini semua bisa dilihat dari berbagai aktifitas masyarakat dalam bidang seni budaya seperti tari - tariannya, upacara - upacara adat, tata krama pergaulan, hasil - hasil kerajinan, kesemuanya kental dengan nuansa Islami.



Masyarakat Aceh Utara sejak zaman dahulu hidup dibidang pertanian, perkebunan dan lainnya. Daerah Aceh Utara telah berkembang berbagai kesenian : seni tari, seni drama, seni sastra, sandiwara, seni ukur / pahat dan berbagai jenis kesenian lainnya. Tari Aceh diiringi dengan vokal suara dan ada kalanya dengan Rapai, Serune Kale, Canang. Seni tari di Aceh Utara sudah lama berkembang khususnya kesenian tradisional umumnya kesenian tradisional ini dilakukan pada malam hari maa bulan terang, setelah musim panen disawah selesai, biasanya semalam sampai pagi, jenis kesenian di Aceh Utara yang berkembang dan sangat di gemari seperti: Seudati / Saman, Rapai Pasai, Rapai Dabus, Rapai Lahee, Rapai Grimpheng, Rapai Pulot, Alue Tunjang, Poh Kipah, Biola Aceh, Meurukon, Sandiwara / Drama Aceh dan Hikayat Aceh. Dalam notes ini, saya gak akan membahas semua tarian ini, nanti saja di notes lainnya, hha..




Masyarakat Lhokseumawe kiranya perlu peduli dan menghargai kembali sejarah dan lingkungan alamnya, tidak hanya sibuk dengan pembangunan dan terlena dengan masa kejayaan minyak bumi dan gasnya.. jika tidak, Lhokseumawe hanya akan menjadi Kenangan yang Terlupakan, 