Minggu, 10 Mei 2009

Menyusuri sejarah kota Banda Aceh

Pulang kampung kali ini, gak ada direncanain dan gak pula diprediksi, tapi diambil hikmahnya aja, dari pada suntuk di rumah terus selama 1 minggu, timbul ide untuk keliling kota Banda Aceh. Setelah membaca 2 jilid buku Aceh Sepanjang Abadnya HM Said, terbesit juga keinginan untuk mengunjungi situs-situs menarik yang berkenaan dengan sejarah kota Banda Aceh, yang dulu lebih dikenal sebagai ibukota Kerajaan Aceh. Kalo orang Belanda sih lebih senang menyebutnya dengan Kutaraja.

Perjalanan dimulai dari rumah, di desa Lamara dekat Keutapang, sepeda motor Supra 125 cc siap menemani petualangan hari ini. Tujuan pertama adalah rumah Cut Nyak Dhien, di desa Lampisang,sekitar 4 km dari rumah, mungkin ada sekitar 8-10 km dari pusat kota Banda Aceh.






Kalo gak salah sih tempat ini bukan lagi masuk daerah Kotamadya Banda Aceh, tapi masuk ke Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya di pinggir jalan Cut Nyak Dhien sebelah kiri, sebelum deretan Kedai-kedai yang menjual Kue tradisional aceh. Rumah ini hanya lokasinya aja yang masih asli, namun bangunan, letak posisi rumah dan interiornya udah direnovasi seiring dengan usaha pelestarian cagar budaya. Di dalamnya terdapat barang-barang peninggalan Cut Nyak Dhien

ketika masih bersama Teuku Umar berjuang melawan Belanda, rumah ini sebenarnya adalah pemberian Belanda ketika Teuku Umar menjadi pimpinan pasukan tentara Belanda untuk menumpas pasukan Kerajaan Aceh saat Teuku Umar bersiasat mencuri logistik persenjataan Belanda. Karena jasa-jasanya, Teuku Umar pun diberi gelas Johan Pahlawan. Namun, saat Teuku Umar kembali ke pasukan Aceh, rumah ini menjadi markas besar dan tempat berlangsungnya rapat-rapat penyerangan pasukan Aceh kepada Belanda setelah beberapa kali dibakar oleh Belanda.

Di rumah ini juga terdapat ruangan-ruangan khusus diantaranya ruang tamu Cut Nyak, kamar pribadinya, kamar Cut Nyak Gambang, senjata-senjata yang dipakai, dan ruang rapat. Kita gak akan bicara banyak tentang perjuangan Cut Nyak Dhien disini, karena cukup panjang. Yang perlu diketahui adalah, perjuangan Cut Nyak Dhien menyebar dari Aceh Barat hingga Aceh Pidie, kebiasaan perjuangannya menggunakan keunggulan pasukan di kawasan pesisir. Cut Nyak Dhien adalah keturunan bangsawan dan sampai kini jasadnya telah dimakamkan di kota Sumedang Jawa Barat karena dulunya Belanda membuang beliau kesana

Tujuan berikutnya adalah jalan setui, ada apa di jalan yang sekarang sudah terkenal dengan kedai kopi Black and White, Canai Mamak, Mie Rajali dan My Bread itu? Ada Gunongan dan Kandang (tempat makam Sultan Iskandar Thani), komplek Gunongan ini terletak di ujung jalan Setui, sebelum ketemu perempatan Taman Sari, tapi masuknya mesti muter dulu, kalo kita berasal dari jalan Setui. Saat masuk ke komplek ini, kita disambut oleh bangunan pengelola cagar budaya Sumatera Bagian Utara. Saran alis sih, masuk aja bangunan ini (lembaga ini dibawah dinas Budaya kalo nggak salah), trus minta informasi-informasi berbentuk buku tentang situs-situs sejarah aceh. Gratis…



Gunongan ini adalah taman yang dibuat oleh Sultan saat memerintah Kerajaan Aceh sebagai hadiah kepada Putri kerajaan Pahang Malaysia (Putro Phang) yang rindu akan tanah kelahirannya, maka Sultan membuat miniatur gunung karena daerah Pahang Malaysia memang berasitektur pegunungan.



Disamping gunongan terdapat Kandang (tapi dikunci euy), menurut penuturan orang yang kerja di Lembaga Cagar Budaya itu, didalam kandang itu adalah makam Sultan Iskandar Thani (anak Sultan Iskandar Muda), gak banyak yang bisa diliat di komplek ini, karena 2 situs ini terkunci, gak semua orang bisa masuk, tapi yang perlu diambil adalah buku-buku tentang sejarah Aceh, hhe….minta aja…



Gak jauh dari komplek ini (kayaknya dulu sih menyatu) ada Taman Putro Phang, yang dulunya disebut taman Ghairah. Taman ini tempat bermainnya putri, dialiri sungai yang indah yang disambung oleh 2 jembatan, taman ini kini menjadi taman kota, tapi gak banyak yang berkunjung kesini, mungkin karena fasilitasnya yang kurang dan tidak menjadi tujuan utama masyarakat Banda Aceh.




Perjalanan berlanjut agak ke Utara, ke arah Museum Tsunami (gedung sangat megah yang berdiri sebagai peringatan tsunami, namun sampai sekarang belum dapat dimasuki umum), ada perkuburan Belanda, Kerkoff.





Mungkin juga gak banyak yang tau, di daerah Kerkoff inilah dulu terjadi pertempuran besar-besaran antara Tentara Belanda yang dikepalai oleh Mayor Jendral JHR Kohler dan Pasukan Aceh. Pasukan belanda yang ingin menguasai Keraton, setelah menguasai Mesjid Raya, terjebak dengan siasat pasukan Aceh yang mundur untuk menyerang, Jendral pun tertembak, pasukan belanda dapat dipukul mundur, mesjid Raya kembali dapat dikuasai dan pasukan belanda yang tewas dibiarkan tergeletak di kawasan Kerkoff ini. Sampai saat ini komplek perkuburan Belanda ini masih dirawat Pemerintah Daerah Aceh dengan biaya dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Ada ribuan makam disini, dimana masing-masing nama pasukannya tertulis di sepanjang pagar (bolak-balik) pintu Khop (pintu masuk kuburan).





Sementara kuburan para Jendral ditandai dengan nisan yang agak besar dan terletak ditengah-tengah makam lainnya.

Oke, kembali ke arah utara, sebelum mengunjungi mesjid istimewa di Ulhelhee, alis nyempetin dulu mengunjungi PLTA apung yang pada saat tsunami terbawa dari tengah laut ke daratan (perjalanan PLTA seberat ratusan ton ini mungkin sampai 20 km lebih dibawa air).



Kini, PLTA apung ini menjadi objek wisata tsunami, pengunjung diperkenankan masuk dan naik PLTA gratis (bayar parkir kendaraan aja, hhe), didepannya ada Taman Edukasi (gak jelas, apa guna taman ini). PLTA apung ini terletak di kawasan Punge, gak sampai 1 km masuk dari jalan Iskandar Muda.






Perjalanan berlanjut mengikuti Jalan Iskandar Muda, sambil melewati monumen Pesawat RI-1 Seulawah yang merupakan monumen peringatan bersejarah kalo rakyat Aceh dulu pernah menyumbangkan 2 buah pesawat kepada pemerintahan Republik Indonesia Serikat untuk pertama kalinya. Lalu berlanjut mengikuti Jalan Iskandar Muda, jalan ini belum sepenuhnya selesai dibuat, gak tau deh apa sebabnya. Sebelum sampai ke Uleelhee, kita dihadapkan pada Kuburan Masal Tsunami (sebelah kiri jalan).



Kuburan ini adalah salah satu dari empat kuburan masal tsunami yang ada di Banda Aceh. Lalu alis ketemu dengan Mesjid bersejarah Uleelhee. Mesjid ini sudah ada sejak jaman penyerangan Belanda ketika mendarat di Pantai Cermin. Mesjid ini sudah mengalami renovasi, namun tidak menghilangkan arsitektur lamanya sebagai ciri khas Mesjid. Mesjid ini termasuk mesjid yang “tersisa” saat tsunami menghabiskan bangunan-bangunan sekitarnya, mesjid ini tetap berdiri dengan kerusakan di beberapa tempat.





Kalo perjalanan ini diteruskan, kita akan ketemu pelabuhan Uleelhee, namun, perjalanan kali ini gak mengharuskan alis untuk kesana, kita balik, ke arah Peukan Bada. Jalan dari Mesjid Uleelhee ke arah lhoknga itu akan sampai di desa Peukan Bada, desa Aceh besar yang sudah ada sejak jaman kerajaan Aceh, perjalanan alis lanjutkan ke arah pegunungan di desa yang terkenal dengan kerajinan tangannya. Perjalanan ini akan menemui jalan buntu, karena memang jalan inilah akhir dari ujung pulau Sumatra bagian banda Aceh. Jalan aspalnya putus, karena memang dibalik gunung itu tidak ada lagi perkampungan yang dapat dikunjungi. Kenapa alis kemari? Karena disinilah dulu pelabuhan kerajaan Aceh, yang menurunkan bahan-bahan perdagangan baik dari luar aceh ke dalam Aceh, maupun perdagangan dalam Aceh ke luar Aceh.



Kembali ke arah kota Banda Aceh, melewati jalan baru yang dibangun oleh Pemerintah Jepang di Lampaseh, juga melewati beberapa bangunan darurat tsunami dan gempa. Keluar dari belakang bank BNI, perjalanan dilanjutkan ke arah kiri, ke arah jalan Merduati melewati bangunan megah PLN (yang melayani listrik dengan tidak memuaskan di Banda Aceh). Kawasan Merduati termasuk kawasan yang parah terkena tsunami pada tahun 2004, tapi kini masyarakat telah membangun. Sampai di Kedah, perjalanan macet, di daerah pasar Keudah (yang dibelakangnya dulu adalah Penjara Keudah), alis belok ke arah kiri, di Palanggahan, melewati Kampung Jawa dan sampai kepada Kampung Pande.



Sesaat sampai di kampung Pande, alis sedih karena yang alis baca-baca dari sejarah kota Banda Aceh, disinilah untuk pertama kalinya Kerajaan Aceh didirikan dan diproklamasikan 804 tahun yang lalu yang menjadikan rujukan kelahiran kota Banda Aceh, jauh sebelum Sultan Iskandar Muda bertahta, jauh sebelulm Belanda merubah nama kota ini menjadi Kutaraja, jauh sebelum tsunami 2004 meluluhlantakkan perekonomian di daerah ini. Tapi apa jadinya tempat ini sekarang? Gak lebih dari Tempat Pembuangan Sampah akhir dari penduduk kota Banda Aceh. Tumpukan sampah yang sudah menggunung menjadikan kampung Pande ini jorok, bau dan jarang dikunjungi, makanya alis yakin, gak banyak warga Aceh, terlebih Warga Banda Aceh tau, bahwa sejarah 804 tahun kota Banda Aceh itu berawal dari sini yaitu tanggal 22 April 1205 M (1 Ramadhan 601 H), yaitu saat Sultan Johan Syah berhasil menaklukkan Kerajaan Hindu/Budha Indra Purba dengan ibukotanya Bandar Lamuri.



Dari kampung Pande, alis balik lagi ke Pasar Keudah, menyusuri sungai Krueng Aceh yang menjadi pintu masuk pertama kali penjelajah Gujarat ke daratan Aceh. Menurut sebagian cerita, nama Aceh pun berawal dari sini, ketika pedagang Gujarat itu sampai ke tanah Aceh, Saat itu turun hujan lebat dan mereka berteduh di pohon-pohon kayu. Saat hujan itulah, alam didaerah tersebut menampakkan kebesaran Allah dan mereka terkagum-kagum dengan menyebutkan : “acha...acha...acha...”, yang artinya: “indah...indah...indah...”. dari kata Acha itu, nama ini kemudian mengalami metamorfosa menjadi Atjeh..

Selesai dari sini, alis ke daerah Peunayong, kawasan China yang banyak berdiri Toko-Toko perdagangan, ada Nokia Customer Center, RM Istana, AHASS Honda dll, Wihara. Peunayong ini juga dulu menjadi basis pertahanan pasukan Aceh, saat Belanda sudah menguasai Mesjid Raya. Lepas dari peunayong, menyusuri Simpang Lima,

alis ke Arah jalan Tgk Daud Beureuh, melintasi Pizza Hut, yang rame yang pengunjungnya banyak yang gak sadar kalo restaurant itu terkenal sebagau Junk Foodnya Amerika, sementara kita disini menjadi trend kalo makan di Pizza Hut itu gaya Amerika, hha…



Gak banyak saksi sejarah di jalan Daud dan Tgk Chik Ditiro, cuma sedikit menyimak Mesjid di Jalan Ratu Safiatuddin yang berdiri megah seperti mesjid di timur tengah, dibelakangnya terdapat taman Pekan Kebudayaan Aceh yang dinamakan Taman Ratu Safiatuddin.



Siapa Ratu Safiatuddin? Ratu ini adalah sosok pemimpin Sultanah di jaman Kerajaan Aceh yang menjadi panutan wanita-wanita Aceh dalam memperjuangkan Aceh dari siapa saja yang ingin mengambil Aceh. Berjalan terus ke lingke (lingke berasal dari kata China yang dimana dahulu, banyak pedagang China yang tinggal disini, gak seperti sekarang, banyak warga China yang tinggal di Peunayong, hhe.



Jalan terus hingga alis menemukan Tugu Pena, Tugu yang dibuat dan diresmikan saat pembangunan Komplek Pelajar dan Mahasiswa Darussalam (Kopelma), tugu yang bertuliskan Berjuang sambil belajar, dan belajar sambil berjuang, menambah keinginan alis untuk terus berbakti pada Aceh lon Sayang..



Ok, ada dua pilihan di simpang mesra ini, antara ke Darussalam, atau ke arah krueng Raya? Darussalam gak banyak yang aneh, hanya kumpulan gedung-gedung Universitas Syah Kuala dan IAIN Ar Raniry. Jadi teringat dulu pas baca sejarah Syiah dan Sunni di Aceh, kalo dulu Syekh Abdur Rauf Assingkili (Syiah Kuala) dan Nurrudin Arraniry adalah dua tokoh Ulama terpandang di masing-masing jamannya yang memiliki perbedaan sangat signifikan tentang Islam. Terlepas dari siapa yang benar, kita harus mengerti bahwa mereka pasti berangkat dari tujuan yang sama untuk menyebarkan Islam di muka bumi Aceh. Ups, tadi pas di Simpang Jambo Tape (sekitar 2 km dari Mesjid Raya), lupa ngunjungin makan Syiah Kuala, ntar deh waktu pulang aja..



Akhirnya pilihan jatuh ke arah Krueng Raya, perjalanan memakan waktu lebih kurang 1 jam lebih untuk sampai di daerah Ujung Bate, dimana di daerah ini pula pasukan belanda dulu masuk untuk menyerang Aceh dari arah Utara dan Timur. Saat itu Belanda Juga mendirikan benteng yang sekarang masih terlihat di pantai Ujung Batee lewat dikit.

Tapi jauh hari sebelum Belanda datang menyerang, Pasukan Portugis juga pernah menyerang tempat ini saat Kerajaan Aceh belum Berdiri, dulu yang menjadi pusat pemerintahan disini adalah Kerajaan Indra Patra, salah satu dari 3 kerajaan Hindu yang mencerminkan sebutan Aceh Lhee Sagoe (Indra Purwa, Indra Patra dan Indra Puri), ada sebuah benteng (di daerah ladong), sekitar 5 km dari arah ujung Batee ke Krueng Raya, yang menjadi saksi bisu, pernah ada kerajaan Hindu berdiri disini. Adapula saksi bisu kerajaan Lamuri yang didalam benteng itu terdapat tempat pemandian ratu, benteng pertahanan yang berlapis dan beberapa lubang yang alis curigai sebagai tempat meriam (hha)





Itung-itung, perjalanan ke Krueng raya akan memakan jarak 10 km lagi, dan tak ada yang bisa dilihat disana, hanya ada Makam Malahayati, yang merupakan Pahlawan Wanita Aceh di Jaman kesultanan Ratu Safiatuddin, Malahayati pernah di abadikan menjadi nama pelabuhan yang sekarang menjadi pelabuhan bongkar muat barang untuk kota Banda Aceh ini.



Kembali ke arah simpang mesra, perjalanan menuju Syiah Kuala, daerah ujung utara Pantai Aceh ini menampilkan pemandangan laut yang indah, sebelum menemui makam Syiah Kuala, kita akan menemukan Kuburan massal yang kedua, kuburan ini adalah para korban di sekitar kampung ini yang sekarang menjadi tempat daerah resapan tsunami, gak banyak yang tinggal dan mamba rumah lagi di daerah ini.



Makam Syiah Kuala masih sangat kokoh meski hanya berjarak sekitar 10-20 meter dari bibir pantai. Kuasa Allah menjadikan Makam ini bertahan dari terjangan tsunami dan sekarang sudah dipugar bersama dengan makam-makan murid beliau disampingnya. Dahulu di jaman Ratu Safiatuddin, disini pernah berdiri sebuah Universitas Islam terbesar di Dunia setelah Universitas Islam Kairo pimpinan Syekh Abdul Rauf Assingkili (Syiah Kuala). Nah, oleh karena jasanya itu pula nama beliau diabadikan menjadi nama Universitas Negeri di Banda Aceh. Beliau sendiri adalah putra daerah Barus, dekat Singkil di Aceh bagian selatan, makanya namanya ada Assingkili.

Ok, ta jak woe (kita pulang)…sambil pulang, kita bisa melihat pemandangan ke arah tujuan pulang berdiri dengan megahnya Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Ada yang tau apa bedanya 2 gunung itu? Kalo Seulawah Agam, berdiri tegak sendiri menjulang tinggi, disalah satu kaki bukitnya, berdirilah kota Saree, tempat biasanya kita berhenti sejenak dalam perjalanan dari Medan-Banda Aceh maupun sebaliknya. Kalo Seulawah Inong, terdiri dari banyak gunung-gunung disekitarnya.





Perjalanan berlanjut ke arah Pendopo Gubernur, melintasi simpang Jambo Tape (simpang ini dulu pernah ada penjual Tape yang dijajakan di Pondok, makanya namanya Jambo Tape), sampai ke simpang Surabaya, belok kanan menuju pendopo. Tapi sebelum masuk ke Pendopo, alis singgah dulu di komplek makam Sultan Iskandar Muda, yang didalamnya juga terdapat Museum Aceh, Rumoh Aceh dan peninggalan kerajaan Aceh lainnya seperti Cakra Donya. Wah, kalo disini dibahas tentang Sultan Iskandar Muda, akan sangat panjang. Cakra Donya sendiri adalah hadiah dari negara sahabat kepada Sultan Aceh sebagai tanda persahabatan dua kerajaan. Menurut catatan Marcopolo, Cakra Donya ini berasal dari China, bukan dari Inggris seperti yang banyak orang-orang bilang. Lebih jelasnya bisa diliat langsung diketerangan gambarnya.







Sudah puas berjalan di komplek ini, perjalanan harus dilanjutkan ke Arah luar Banda Aceh. Melintasi kembali simpang surabaya, menuju arah Lueng Bata. Lueng Bata terkenal dengan daerahnya karena daerah ini dulu pernah menjadi ibukota kerajaan Aceh sementara saat Keraton mulai dikuasai Belanda pada agresi militernya ke dua, Sultan pernah bermukim disini bersama Tgk Imum Leung Bata dan merancang kembali penyerangan di Meunasah Leung Bata yang kini ditempat mesjid Jami’ Leung Bata.



Perjalanan sekarang menuju ke Arah Indrapuri, ada peninggalan bersejarah pula disini, ada mesjid Indrapuri, yang dulu adalah istana kerajaan Indrapuri, yang tidak lain adalah kerajaan hindu di Aceh. Letaknya yang strategis di pinggir sungai indrapuri menjadikannya sebuah bangunan yang megah dijamannya sesuai dengan benteng pertahanan.



Masuk ke arah pasar indrapuri, alis masuk ke arah Cot Glie, daerah pegunungan yang asri, yang masih belum terjamah oleh pembangunan, hhe. Untuk apa emangnya kesini?





Untuk menjumpai makamnya Tgk Chik Ditiro, makam yang terletak ditengah-tengah gunung ini adalah tempat peristirahatan seorang pahlawan terkenal yang bernama asli Muhammad Saman di Tiro yang dikenal Belanda dengan perjuangan Perang Sabilnya. Tgk Chik Ditiro meninggal karena diracun oleh saudaranya sendiri sesama bangsa Aceh yang diadu domba oleh Belanda. Berlanjut dari sini, pulang ke Arah Seulimum, alis menjumpai Makam Panglima Polem yang bernama Asli Teuku Panglima Polem Sri Muda Peurkasa Muhammad Daud. Panglima Polem adalah salah satu panglima Perang Teuku Umar yang berperang di Aceh Besar, Aceh Pasai sampai ke Sigli. Panglima Polem menyerah kepada Belanda bersama Sultan Muhammad Daud Syah pada 1903 yang secara kerajaan telah tunduk kepada belanda, namun perlawanan rakyat tetap berkibar.





Keluar dari Seulimum Aceh Besar, alis berniat ke kota Jantho, tapi mengingat waktu sudah sore, perjalanan pulang kembali ke kota Banda Aceh mesti dilakukan, melewati daerah-daerah Aceh besar sampai kembali ke Kota Banda Aceh.

Perjalanan berakhir, dengan berbagai pengalaman sejarah yang menakjubkan, anda harus mencoba…

4 komentar:

upeh mengatakan...

terimakasih buat tulisannya,,,, luar biasa bermanfaat buat penelitian saya,,,

pakdhe mengatakan...

manteb informasinya...
Di Banda Aceh masih lama ga Lis?
aku sekarang di Medan ni..

musnandar mengatakan...

Terima kasih atas tulisannya....
saya sempat terharu saat membacanya, rindu akan kejayaan aceh yang dulu...
salut..., masih ada generasi muda yang peduli pada sejarah "Aceh Lon Sayang, Tanoh Rincong"....

Anonim mengatakan...

Sejarahnya bagus Mas, sayang kalimatnya kebanyakan "Sih, sih" jadi agak mengganggu..